Kenapa Studio Musik Sebaiknya Tidak Dibangun di Lantai 2?
Orang kadang tidak paham bahwa, studio musik/rekaman bukan ruangan biasa. Begitu berfungsi, suara dan getaran tidak berhenti didalam ruangan itu saja. Disinilah banyak orang baru sadar: suara bisa merambat kelantai dibawah dan diatasnya, keruangan lain, bahkan mengganggu tetangga rumah.
Dari pengalaman dilapangan, studio musik yang dibangun di lantai 2 hampir selalu menghadapi tantangan teknis yang lebih besar. Bukan berarti tidak bisa dibuat, tetapi tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi. Akibatnya, solusi akustik dan insulasi yang dibutuhkan sering kali membuat biaya membengkak jauh dari perkiraan awal. Karena itu, memilih lokasi studio sejak awal, menjadi keputusan penting untuk menghindari masalah dan pengeluaran tambahan di kemudian hari.
Masalah Utama Studio Rekaman di Lantai 2 : Getaran (Structure Borne Noise)
Saat anda membayangkan gangguan suara dari studio, yang terpikir biasanya adalah suara yang terdengar dan merambat melalui udara (Airborne Noise) misalnya suara musik yang bocor ke ruangan lain. Padahal, pada studio musik yang berada di lantai 2, masalah yang lebih sering muncul justru berasal dari getaran. Getaran ini tidak terdengar jelas sebagai suara, tetapi terasa dan merambat melalui lantai, balok, dan struktur bangunan.
Fenomena inil yang disebut structure-borne noise. Ketika speaker, drum, atau instrumen dengan frekuensi rendah dimainkan, energinya merambat ke struktur bangunan dan menyebar ke ruangan dibawah, diatas dan sekitarnya. Karena merambat lewat struktur, jenis kebocoran suara ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan panel akustik atau peredam dinding. Tapi dibutuhkan solusi konstruksi khusus, dan di sinilah tingkat kesulitan, serta biaya studio musik di lantai 2 mulai meningkat.
![]() |
| Horizontal Flanking Noise |
Begitu gangguan getaran mulai dirasakan, solusi yang dibutuhkan tidak lagi sederhana. Untuk mengurangi structure-borne noise hampir selalu menyentuh aspek konstruksi seperti: lantai, rangka bangunan, dan sistem pemisahan struktur. Pada tahap inilah banyak pemilik studio musik mulai menyadari bahwa penanganan getar di lantai 2 tidak bisa disamakan dengan peredaman ruangan biasa. Setiap langkah perbaikan membawa konsekuensi tambahan, baik dari sisi material dan ruang.
![]() |
| Vertikal Flanking Noise |
Masalah pun akan berkembang: bukan lagi sekadar bagaimana meredam suara, tetapi seberapa besar biaya yang harus disiapkan untuk mengurangi transmisi suara yang merambat melalui struktur.
Kenapa Biaya Studio Musik di Lantai 2 Mahal?
Banyak orang memulai pembangunan studio di lantai 2 dengan anggaran yang tampak masuk akal. Perhitungannya sering disamakan dengan studio di lantai dasar: dinding diberi peredaman, pintu dibuat lebih rapat, lalu selesai. Namun, begitu studio mulai dipakai, masalah getaran dan kebocoran suara (Flanking Noise) mulai terasa, dan disinilah biaya tambahan mulai bermunculandan bikin pusing.
Penanganan studio di lantai 2 hampir selalu membutuhkan solusi diluar rencana awal. Lantai harus didesain khusus dengan prinsip floating floor untuk mengurangi rambatan getaran, kekuatan struktur bangunan perlu diperhitungkan, dan sering kali ruang harus “dikorbankan” demi lapisan tambahan. Setiap solusi ini bukan sekadar menambah material, tetapi juga menambah tingkat kesulitan kerja dan tentunya biaya.
Apa Itu Floating Floor
Akustik Floating Floor adalah struktur lantai yang dibangun terpisah secara fisik dan struktural dari lantai beton dasar (slab) bangunan. Lantai ini "mengambang" diatas peredam getar (Vibration isolators) yang bertujuan memutus jalur transmisi suara dan getaran.
![]() |
![]() |
| Vibro-EP |
Prinsip Kerja Floating Floor
Memutus Jalur Getaran: Floating floor bekerja dengan cara menghilangkan semua sambungan kaku antara lantai studio musik dan lantai struktur bangunan, yang menjadi jalur utama rambatan getaran. Elemen elastis yang menopang lantai akan mengalami lendutan saat menerima beban, sehingga mampu menyerap energi getar dan kebisingan.
2. Sistem Massa-Peredam-Massa:
- Massa Bawah: Lantai beton existing.
- Peredam/Resilien/Spring: Material seperti busa elastomer padat (neoprene), spring khusus, atau rubber mounts.
- Ruang Kosong (Air Gap): Celah udara antara lantai mengambang dan dinding sekelilingnya, yang dilapisi material fleksibel untuk mencegah sentuhan
- Massa Atas: Lantai baru (beton cor atau kayu berlapis tebal) yang "mengambang" di atasnya
2 tipe konstruksi Floating Floor
Lightweight Floating Floors
Jika lantai eksisting tidak memiliki kekuatan struktur yang memadai, pengecoran beton tidak memungkinkan, atau biaya perlu dikendalikan, maka floating floor ringan (lightweight floating floor) sering menjadi pilihan terbaik. Dengan sistem yang dirancang secara tepat, tingkat isolasi kebisingan dan getaran yang sangat tinggi tetap dapat dicapai.
![]() |
| https://www.mason-uk.co.uk/ |
Isolator berbahan karet atau pegas digunakan untuk menopang lantai yang tersusun dari beberapa lapisan material. Lapisan tersebut biasanya berupa multipleks, paving slab, atau screed. Penggunaan beberapa lapisan, yang dapat dikombinasikan dengan rangka/frame, diperlukan untuk membentuk lantai yang cukup kaku serta memberikan massa yang memadai agar isolator dapat terkompresi sesuai desain dan bekerja secara efektif.
Heavyweight Floating Floors
Sistem ini menggunakan Mason jack-up system, yaitu metode pengangkatan lapisan beton dengan jack yang dapat disetel ketinggiannya. Sistem ini memberikan fleksibilitas yang tinggi dalam proses pemasangan dan memastikan terbentuknya celah udara (air gap) yang konsisten di bawah lantai mengambang.
![]() |
| https://www.mason-uk.co.uk/ |
Isolator karet alami tipe bridge-bearing yang digunakan merupakan desain khas Mason. Isolator ini tidak memerlukan perawatan, dirancang untuk bertahan sepanjang umur bangunan, dan mampu memberikan kinerja isolasi getaran terbaik dibandingkan material elastomer lain yang saat ini dikenal.
Floating Floor Mahal dan Rumit
Floating floor menuntut perubahan signifikan pada konstruksi lantai. Sistem ini menambah ketebalan lantai sekitar 10–20 cm, yang berdampak pada ketinggian ruangan dan menambah beban struktur bangunan. Lapisan lantai yang berat harus ditopang oleh pelat lantai yang memang siap menerima beban tambahan, sesuatu yang tidak selalu dimiliki bangunan rumah tinggal.
Selain itu, floating floor membutuhkan material khusus yang mampu menahan beban sekaligus tetap elastis. Pemasangannya pun tidak boleh sembarangan. Lantai harus benar-benar terpisah dari dinding dan kolom tanpa koneksi struktur. Sentuhan kecil saja sudah cukup untuk menjadi jalur rambatan getaran dan membuat sistem ini tidak bekerja.
Karena melibatkan struktur dan detail pemasangan yang presisi, floating floor harus dirancang sejak awal dengan melibatkan Insinyur Sipil untuk memastikan kekuatan beban lantai.
Kegagalan Floating Floor di Lapangan
Kasus yang sering ditemui adalah floating floor yang sudah dipasang, tetapi tetap menimbulkan keluhan suara “bergetar” di lantai bawah. Setelah diperiksa, lantai studio ternyata bersentuhan langsung dengan dinding di beberapa titik. Sentuhan kecil ini membentuk rambatan struktur yang membuat getaran kembali merambat ke bangunan, sehingga fungsi floating floor praktis hilang.
Bagikan artikel ini jika Anda menemukan tips yang bermanfaat, dan jangan lupa tinggalkan komentar tentang pengalaman anda.








0 Komentar