Akustik Studio Rekaman: Desain dan Treatment Live Room

Akustik Studio Rekaman: Desain dan Treatment Live Room

AKUSTIK STUDIO REKAMAN (LIVE ROOM)

Akustik studio rekaman adalah faktor utama yang menentukan kualitas hasil rekaman, terutama pada area live room. Live room bukan sekadar ruang kosong untuk merekam instrumen atau vokal, tetapi harus dirancang dengan perhitungan presisi meliputi dimensi dan volume ruangan, pengendalian room modes serta resonansi frekuensi rendah, hingga pemilihan material atau penempatan modul akustik yang tepat.

Tanpa desain akustik yang benar, suara rekaman dapat terdengar boomy, boxy, atau terlalu mati (dead). Pada artikel ini, saya membahas bagaimana desain dan treatment live room dilakukan berdasarkan studi kasus proyek nyata.


Hal penting sebelum membangun studio rekaman
Akustik Treatment Studio Musik

Dalam perancangan akustik studio rekaman, salah satu tujuan utamanya adalah mencapai karakter ruangan yang netral. Ruangan netral bukan berarti tanpa pantulan atau sepenuhnya menyerap suara, melainkan ruangan yang memiliki respons frekuensi yang seimbang serta waktu dengung (RT60) yang terkendali di seluruh spektrum. Karena itu, desain live room tidak fokus pada penyerapan total, tetapi pada distribusi energi akustik yang terkontrol dan proporsional.

Pada kondisi tersebut, respons frekuensi pada seluruh spektrum (30Hz - 16Khz) perlu dibuat se-flat mungkin tanpa di dominasi oleh mode aksial yang berlebihan. Sementara pada frekuensi mid dan high tetap diperlukan difusi yang cukup, agar ruangan terasa hidup, bernafas dan tidak terasa terlalu mati dan kering (dead). Dengan keseimbangan ini, setiap instrumen dan vokal dapat direkam tanpa pengaruh akustik ruang yang berlebihan, sehingga hasil rekaman menjadi lebih transparan dan lebih mudah diproses pada tahap mixing.


Ruangan Live Room yang Netral

Akustik live room dirancang untuk mencapai satu tujuan utama, yaitu menciptakan kondisi ruangan yang netral. Ruangan netral adalah ruang yang mampu mereproduksi suara setiap instrumen dan vokal secara jelas tanpa pewarnaan (coloration) berlebihan dari karakter akustik ruang itu sendiri. Dengan demikian, timbre asli instrumen tetap terjaga dan tidak mengalami perubahan signifikan akibat resonansi maupun pantulan ruang.

Secara teknis, ruangan netral ditandai oleh waktu dengung (RT60) yang relatif merata di seluruh spektrum frekuensi, respons frekuensi rendah yang terkendali tanpa anomali spektral signifikan, serta pantulan awal (early reflections) yang terukur dan tidak mendominasi suara langsung. Pantulan yang terkontrol justru membantu mempertahankan kesan natural dan realistik, selama tidak mengurangi kejernihan dan definisi suara instrumen.

Dimensi dan volume ruangan sangat memengaruhi tingkat kesulitan dalam mencapai kondisi netral tersebut. Secara umum, ruangan berukuran besar cenderung lebih mudah dikendalikan dibandingkan ruangan kecil. Hal ini berkaitan dengan distribusi room mode pada frekuensi rendah. Pada ruang berukuran besar, kepadatan mode (modal density) meningkat sehingga distribusi resonansi frekuensi rendah menjadi lebih rapat dan respons spektrum cenderung lebih halus. Sebaliknya, pada ruangan kecil, mode resonansi—terutama pada frekuensi rendah—cenderung terpisah dan tidak merata, sehingga lebih mudah menimbulkan penumpukan energi (peak) maupun pembatalan (null) pada titik tertentu di dalam ruang. Meskipun demikian, dengan perencanaan dimensi yang tepat serta treatment akustik yang memadai, ruangan kecil tetap dapat dioptimalkan untuk mendekati karakter netral.

Respond frekuensi ruangan studio yang buruk

Contoh Frekuensi Respond Ruangan yang buruk

Penjelasan Grafik diatas adalah sebagai berikut:

Frekuensi Rendah (40 Hz – 200 Hz)

  • Peak A (~60 Hz): Level sangat tinggi (~100 dB) → Resonansi bass (standing wave)
  • Null B (~75 Hz): Penurunan tajam → akibat interferensi gelombang langsung dan pantulan
  • Peak C (~150 Hz): Kenaikan level → Resonansi bass
  • Peak D (~180 Hz): Boost pada bass berlebihan di frekuensi Mid-Low

Frekuensi Menengah (200 Hz – 800 Hz)

Selain frekuensi rendah, frekuensi menengah (200–800 Hz) juga perlu diperhatikan. Di rentang ini, resonansi tidak setajam di low-end, tapi masih bisa memengaruhi kejelasan vokal dan instrumen tengah. Masalah pada mid-frequency biasanya muncul sebagai suara 'boxy' atau 'muddy'. Analisis awal membantu kita menempatkan panel peredam atau diffuser yang tepat sehingga frekuensi menengah tetap bersih dan alami. Kurva relatif stabil dengan fluktuasi kecil, respons cukup seimbang.

Frekuensi Tinggi (2 kHz – 27.3 kHz)

  • Peak E (~1 kHz): dari refleksi permukaan keras
  • Dip F (~2 kHz): Notch treble dari interferensi
  • Dip G (~10 kHz): Penurunan treble signifikan, akibat efek comb filtering

Selain faktor modal (Room Modes), dimensi ruang juga sangat memengaruhi perilaku pantulan awal (early reflections). Pada ruangan berukuran besar, jarak yang lebih jauh antara sumber suara dan permukaan reflektif menyebabkan peningkatan waktu tunda pantulan awal. Waktu tunda yang lebih panjang ini memungkinkan suara langsung (direct sound) mendominasi persepsi awal pendengar sebelum energi pantulan kembali terdengar. Akibatnya, rasio suara langsung terhadap pantulan (direct-to-reverberant ratio) menjadi lebih menguntungkan bagi kejernihan dan definisi suara instrumen.

Sebaliknya, pada ruangan kecil, jarak yang lebih pendek menyebabkan pantulan awal tiba lebih cepat dan dengan energi yang relatif masih tinggi. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan terjadinya interferensi antara suara langsung dan pantulan, yang dapat memunculkan efek comb filtering serta pewarnaan (coloration) terhadap timbre instrumen.

Dengan demikian, meskipun setiap live room memiliki ukuran, bentuk, dan struktur yang berbeda, sebuah ruangan tetap dapat dikategorikan netral selama distribusi room modes terkendali, waktu dengung relatif merata, serta pantulan awal tidak mendominasi suara langsung. Netralitas bukan semata-mata ditentukan oleh ukuran ruang, melainkan oleh sejauh mana parameter-parameter akustik tersebut dapat dikontrol secara proporsional. Dalam kondisi seperti ini, semua instrumen dan vokal dapat direkam tanpa karakter ruang yang berlebihan, sehingga hasil rekaman menjadi lebih transparan dan jauh lebih fleksibel pada tahap mixing.

Pantulan suara pada ruangan

Contoh Selisih waktu datang suara

Persepsi pantulan tidak ditentukan oleh waktu datang saja, tetapi juga oleh level relatif terhadap suara langsung. Prinsip precedence effect menyatakan bahwa pantulan yang tiba dalam rentang waktu sangat singkat sekitar <20 ms akan menyatu dengan suara langsung. Dalam rentang 20–50 ms, pantulan masih dapat memberikan kontribusi positif terhadap kesan ruang dan kejernihan, selama levelnya tidak melebihi suara langsung. Ketika waktu tunda semakin besar dan energi pantulan cukup tinggi, sistem pendengaran mulai mengidentifikasinya sebagai echo terpisah yang dapat mengurangi definisi suara.

Persepsi telinga manusia terhadap pantulan suara

Kapan Pantulan Menguntungkan dan Kapan Mengganggu?

Pantulan dari lantai memang selalu ada dan relatif memiliki interval waktu yang konsisten, namun dalam praktiknya seringkali lebih mudah dikendalikan dibanding pantulan horizontal dari dinding samping atau belakang. Meski demikian, dalam desain profesional, seluruh arah pantulan, baik horizontal maupun vertikal tetap harus diperhitungkan. Hal yang sama berlaku pada hubungan lantai dan plafon, yang umumnya paralel secara struktural.

Untuk membangun ruangan netral secara akustik, prinsip geometri ruang harus diperhatikan dengan baik. Mode aksial secara alami terbentuk di antara dua permukaan paralel, sehingga dalam praktiknya tidak mungkin sepenuhnya menghindari bidang paralel dalam ruangan. Namun, jika permukaan tersebut sangat reflektif, resonansi dapat menjadi lebih kuat akibat pantulan berulang antara dinding yang berhadapan, sehingga memunculkan tone atau pewarnaan yang mengganggu proses rekaman.

Yang paling penting dan perlu digaris bawahi adalah kita harus perhatikan betul antara apa yang sebenarnya terdengar oleh telinga kita dan apa yang terdengar (ter-capture) melalui mikrofon. Meskipun telinga kita tidak terlalu sensitif dengan pantulan vertikal, dibandingkan pantulan horizontal, mikrofon tidak merasakan perbedaan itu, mikrofon akan menangkap masalah pantulan dari sisi horizontal dan vertikal dengan cara yang sama. Meskipun telinga kita akan mendengarnya sangat berbeda saat mendengarkannya langsung diruangan Live Room (saat rekaman), persepsi kita saat mendengarkan hasil rekaman diruang kontrol adalah hasil dari apa yang tertangkap oleh mikrofon. 😲 PAHAM YA?

Konsekuensinya, dalam merancang design akustik live room yang netral, kita harus mempertimbangkan dari dua sudut referensi:

  1. Analisa secara langsung melalui telinga kita.
  2. Analisa melalui mikrofon (simulasi software).

Menentukan Dimensi Ruangan (Room Ratio)

Dimensi ruangan ini sudah ditentukan sejak awal pembuatan, dengan ratio ruangan (Panjang, tinggi, Lebar) sesuai dengan kriteria Bolt (Richard Bolt). Hal ini dilakukan untuk mengurangi frekuensi problematik, sehingga akustik treatment bisa terprediksi dan efektif.

Walaupun tidak ada rasio yang dapat membuat ruangan anda benar-benar sempurna terbebas dari masalah akustik, tetapi dengan mengacu terhadap ratio ini, anda akan meminimalisir masalah pada akustik ruang.

Menentukan rasio dimensi studio musik

Room Golden Ratio (Bolt Area)

Sumber: F. Alton Everest, Master Handbook of Acoustics

Gambar di atas menunjukkan area rasio yang direkomendasikan menurut Richard Bolt. Intinya, rasio dimensi ruangan (panjang, lebar, tinggi) sebaiknya berada di dalam Bolt Area agar distribusi mode aksial lebih merata.

Sebagai contoh, jika ruangan memiliki dimensi:
P = 4 m
L = 3 m
T = 2,5 m

Jika tinggi dijadikan acuan (1), maka rasionya menjadi:

1 : 1,2 : 1,6

Pada diagram Bolt (dengan sumbu horizontal = width/height dan sumbu vertikal = length/height), titik 1,2 pada sumbu horizontal dan 1,6 pada sumbu vertikal masih berada di dalam area yang direkomendasikan. Artinya, secara teori distribusi mode aksialnya relatif lebih seimbang dibanding rasio yang berada di luar area tersebut.

Kapan Sebuah Ruangan Dikategorikan Kecil Secara Akustik?

Menurut Philip Newell dalam Recording Studio Design (3rd Edition), ruang dengan dimensi di bawah sekitar 10 m × 10 m × 4 m secara praktis masih termasuk kategori small room, karena respons frekuensi rendahnya masih didominasi oleh mode diskrit dan belum mencapai kondisi medan difus (diffuse field).

Jika demikian, bagaimana dengan ruangan yang secara ukuran masih tergolong kecil, seperti kebanyakan home studio? Meskipun secara teori rasio sudah masuk dalam Bolt Area, keterbatasan volume ruang tetap membuat perilaku frekuensi rendah sangat dipengaruhi oleh mode diskrit. Di sinilah tantangan sebenarnya muncul bukan hanya soal rasio dimensi, tetapi bagaimana volume ruang memengaruhi kontrol low frequency dan efektivitas treatment secara keseluruhan.


Ruangan Live Room Besar

Dalam konteks home studio, ruangan dapat dikategorikan besar apabila memiliki volume sekitar 150 m³ atau lebih. Secara praktis, ini setara dengan dimensi mendekati 9 m × 6 m × 3,6 m atau kombinasi lain yang menghasilkan volume serupa.

Pada volume sebesar ini, kepadatan room modes meningkat sehingga distribusi frekuensi rendah menjadi lebih rapat dan respons akustik cenderung lebih halus dibanding ruangan yang lebih kecil. Kontrol low frequency menjadi lebih mudah, meskipun tetap memerlukan akustik treatment yang tepat.

Ruangan Live Room Sedang

Ruangan dengan volume sekitar 60 m³ hingga 150 m³ dapat dikategorikan sebagai live room sedang. Pada volume ini, modal density masih terbatas sehingga beberapa mode frekuensi rendah dapat terdengar dominan pada posisi tertentu di dalam ruangan.

Namun dengan perencanaan rasio dimensi yang baik serta penggunaan bass trap dan treatment broadband yang memadai, masalah yang berkaitan dengan room modes masih dapat dikendalikan secara efektif.

Baca Akustik treatment Home Studio ukuran sedang

Ruangan Live Room Kecil

Ruangan kecil adalah ruangan dengan volume kurang dari 56,6 m³. Pada ruangan kecil akan terjadi lebih banyak masalah daripada yang anda duga. Kesimpulannya, bila ruangan anda semakin kecil maka akan bertambah masalahnya secara akustik, dan akan sulit melakukan akustik treatment karena ruang yang kecil.


Baca Akustik treatment Home Studio ukuran Kecil

Hindari Bentuk Ruangan Kubus

Ruangan kubus, di mana panjang, lebar, dan tinggi sama, sangat sulit dikontrol akustiknya. Mode axial akan sama di semua sumbu (x, y dan z), sehingga resonansi rendah akan menumpuk pada frekuensi tertentu, menciptakan peaks yang kuat dan merusak kualitas audio.

Sebagai contoh: sebuah ruangan 1,5 × 1,5 × 1,5 m (volume 3,375 m³) memiliki mode identik di semua dimensi. Hal ini membuat kontrol akustik sangat sulit, dan ruangan akan terasa "gila" dari sisi audio.

Pernah ada teman bertanya bagaimana menangani ruangannya yang Kubus, P1,5m x L1,5m x 1,5m dengan Volume 3,375m³. Saya katakan kepada mereka bahwa kamar ini harus dihindari seperti wabah covid. Tidak hanya karena ruangan ini sangat kecil tetapi juga memiliki mode yang sama persis di semua tiga dimensi. Mode yang sama pada setiap permukaan ruangan akan membuat anda gila.

Satu-satunya saran saya bila mereka tidak dapat merubah fisik dimensi ruangan adalah mencari alternatif ruangan baru atau membuat ruangan benar-benar mati (dead).

Informasi lengkapnya bisa dibaca disini: Akustik treatment Home Studio ukuran kecil

Lantai Studio (Live Room)

Untuk lantai studio, sebenarnya saya selalu merekomendasikan kayu (asli). Lantai kayu secara estetika lebih hangat, lebih hangat secara suhu, tidak terlalu licin (baik oleh orang dan instrumen), dan lebih natural secara akustik (reproduksi suara). Instrumen seperti cello dan contrabass mengandalkan kontak lantai untuk memberi kesan lebar dan padat yang dihasilkan dari getaran yang merambat melalui permukaan lantai kayu. Selain itu musisi terbiasa dengan lantai kayu ketika mereka tampil manggung, sebisa mungkin ruangan studio seharusnya dirancang agar musisi/artis merasa seperti dirumahnya sendiri, untuk menjaga mood mereka dalam mengekspresikan kesenimanannya. Tapi bila bicara ideal hampir selalu jadi mahal, maka dari itu lantai parquet Laminated dirasa cukup mendekati kearah ideal, asalkan lantai tidak boleh berderit atau membuat suara lain ketika orang berjalan diatasnya atau bergetar akibat pengaruh getaran dari instrumen atau amplifier.

Setelah memahami ukuran ruangan dan material lantai studio, penting juga mengetahui bagaimana ruangan merespons gelombang suara, terutama di frekuensi rendah. Frekuensi rendah ini paling sulit dikontrol dan sering menimbulkan masalah resonansi atau build-up yang memengaruhi kualitas rekaman. Dengan analisa awal, kita bisa menentukan frekuensi problematik sebelum memasang treatment akustik, sehingga solusi lebih tepat sasaran.

Prediksi Frekuensi Problematik di Live Room (Perhitungan Awal)

Dengan dimensi ruangan P7,05 × L4,56 × T4,30 m, kita dapat menghitung mode axial dan menentukan frekuensi problematik yang kemungkinan besar memerlukan perhatian khusus. Fokus kita di sini adalah frekuensi rendah (20–150 Hz), karena ini paling sulit ditangani dalam Live Room.

Dimensi ruangan:

  • P: 7,05 m
  • L: 4,56 m
  • T: 4,30 m
  • Volume: 138,24 m³
  • Surface: 164,14 m²

Mari kita bahas frekuensi problematik pada mode Axial nya dalam range frekuensi antara 20Hz-150Hz (4 sisi dinding + 1 atap + 1 lantai). Hasilnya adalah:

NoFrekuensi (Hz)Kode ModeCatatan
124.331-0-0Mode axial dinding panjang
237.610-1-0Mode axial dinding lebar
339.880-0-1Mode axial lantai/atap
448.651-1-0Mode kombinasi sumbu panjang & tinggi
572.982-0-0Mode axial sumbu lebar
675.220-2-0Mode axial sumbu tinggi
779.771-1-0Mode kombinasi
897.302-1-0Mode axial sumbu panjang
9112.830-2-1Mode axial sumbu lebar
10119.651-0-2Mode axial sumbu tinggi
11121.631-1-1Mode kombinasi
12145.962-1-1Mode axial tinggi/lantai
13150.442-1-0Mode axial lantai/atap

Dari hasil perhitungan ini, dapat kita lihat frekuensi-frekuensi yang kemungkinan besar akan menjadi masalah ruangan Live room ini pada range frekuensi antara 20Hz-200Hz. Sengaja saya hanya menghitung frekuensi yang rendah, karena masalah pada frekuensi rendahlah yang paling sulit diatasi.

Prediksi Frekuensi Problematik (Measured)

Perhitungan di atas hanya prediksi di atas kertas. Untuk memverifikasi, kita perlu melakukan simulasi atau pengukuran nyata menggunakan software akustik profesional seperti:

Mari kita lihat hasil simulasi ruangan ini dalam bentuk grafik (hasil pengukuran dari 30 titik pada ruangan):

Simulasi akustik pada studio rekaman

Frekuensi Domain

Pertama yang harus kita perhatikan adalah frekuensi respond ruangan pada frekuensi domain.

Respon frekuensi pada studio rekaman

Respon Ruangan terhadap bunyi (avg)

Bisa dilihat hasil perhitungan diatas kertas dan simulasi aktual tidak jauh berbeda. Grafik ini menunjukkan ada dip di frekuensi 40Hz, 101Hz, 145Hz dan 150Hz, dan terjadi Peak di 75Hz, 48Hz, 50Hz, 80Hz, 111Hz. Sedikit ringing di mid frekuensi 200Hz-700Hz dan Comb Filtering mulai dari 2000Hz-10.000Hz yang disebabkan pantulan dinding ruangan yang masih polos dan reflektif.

Target frekuensi respond ruangan ini adalah sebisa mungkin membentuk grafik frekuensi respond lebih flat (datar), atau mendekati garis hitam pada grafik diatas.

Time Domain

Kemudian kita analisa berdasarkan Time Domain. Gambar di bawah disebut dengan waterfall dan spectrogram, memudahkan kita melihat panjang waktu decay (ringing) pada spektrum frekuensi. Contoh pada frekuensi 80Hz waktu decaynya cukup panjang sekitar 500ms (0.5s) dan waktu decay yang kurang seragam pada frekuensi diatasnya.

Waterfall Graph analisis akustik

Waterfall Graph

Spectogram analisis decay time studio

Spectogram

Ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam memahami waktu decay pada ruangan yaitu:

  • Decay terlalu panjang - menyebabkan low frekuensi menjadi tidak transparan, karena suara akan dikaburkan oleh decay yang lambat dari suara yang lainnya. Istilah akustiknya adalah Sound Masking. Sebuah ruangan dengan waktu decay yang panjang juga cenderung terdengar Harsh/bising dan kopong/tipis.
  • Decay terlalu pendek - waktu decay yang terlalu pendek dapat menyebabkan suara instrument/Vocal menjadi kurang lebar. Secara akustik waktu decay dianggap terlalu pendek bila di bawah 0.2s.
  • Decay tidak merata - sebuah ruangan dengan karakteristik waktu decay yang tidak merata, di mana waktu decay lebih cepat pada beberapa frekuensi daripada frekuensi lainya, suara tinggi akan terdengar tumpul (mendem) dan low bass yang tidak fokus (bahasa awamnya bleber).

Pada konteks akustik studio rekaman, saya memiliki target decay time tidak kurang dari 0.2s dan tidak lebih dari 0.5s pada seluruh spektrum frekuensi.

Berikut simulasi gambar 2D karakteristik/perilaku ruangan ini terhadap bunyi pada frekuensi 100Hz (Room modes):

Room Modes 3D Room Modes 2D

Gambar diatas dapat membantu kita memetakan distribusi suara yang eksesif pada frekuensi 100Hz pada ruangan ini lebih akurat. Contoh bila anda berdiri pada posisi ruangan yang berwarna kemerahan, anda akan merasakan bunyi lebih keras pada frekuensi 100Hz, tetapi bila anda berjalan menuju daerah yang berwarna hijau, anda akan merasakan bunyi lebih pelan pada frekuensi 100Hz. Atau bila anda meletakkan speaker monitor anda pada daerah yang kemerahan, anda akan cenderung memotong (cut) frekuensi 100Hz pada equalizer anda.

Keduanya mengartikan bahwa telinga anda sedang 'ditipu' oleh ruangan ini.

Rekomendasi Awal untuk Mengatasi Masalah

Berdasarkan analisis di atas, berikut adalah langkah-langkah awal yang dapat Anda terapkan untuk mulai memperbaiki akustik live room:

  • Atasi frekuensi rendah bermasalah (40–80 Hz): Pasang Bass trap jenis porous dengan ketebalan minimal 20 cm di setiap sudut ruangan (pertemuan tiga sisi). Untuk frekuensi yang lebih spesifik seperti 75 Hz, Anda bisa menggunakan Panel membrane absorber yang dirancang khusus pada frekuensi tersebut. Letakkan di dinding belakang atau titik dengan tekanan suara tertinggi (lihat gambar distribusi 100 Hz sebagai referensi).
  • Redam ringing di frekuensi menengah (200–700 Hz): Gunakan panel absorpsi broadband dengan ketebalan 5–10 cm yang dipasang di titik pantul pertama (first reflection points) pada dinding samping dan langit-langit. Ini akan mengurangi Flutter echo dan membuat suara lebih bersih.
  • Atasi comb filtering (2–10 kHz): Pasang diffuser tipe QRD Diffuser atau Skyline pada dinding belakang dan sebagian dinding samping. Diffuser akan menyebarkan pantulan tanpa menghilangkan energi, sehingga ruangan tetap terasa hidup namun tanpa efek interferensi yang merusak.
  • Perbaiki ketidakmerataan waktu dengung: Kombinasikan material absorpsi dan difusi secara proporsional. Lakukan simulasi ulang setelah pemasangan untuk mengevaluasi hasilnya. Targetkan RT60 yang relatif rata di seluruh frekuensi, idealnya antara 0,3–0,5 detik untuk live room serbaguna.

Penjelasan lebih rinci tentang spesifikasi teknis, perhitungan ketebalan panel, dan studi kasus pemasangan akan saya bahas pada artikel berikutnya. Pastikan Anda tidak melewatkannya!

Nah kita sudah bahas masalah mendasar yang ada pada ruangan studio ini (Live Room). Bagaimana cara mengatasinya dan bagaimana akustik treatmentnya, akan saya bahas pada tulisan saya berikutnya. 👦 Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Bila ada pertanyaan silahkan isi pada kolom komen.

❓ Apa itu live room yang netral? +
Live room netral adalah ruangan rekaman yang tidak memantulkan suara berlebihan, sehingga semua frekuensi terdengar seimbang dan natural.
❓ Kenapa ukuran dan bentuk ruangan penting? +
Ukuran dan bentuk ruangan memengaruhi pantulan suara. Bentuk kubus → bass dominan. Proporsi panjang, lebar, tinggi berbeda → suara lebih seimbang.
❓ Apa itu frekuensi problematik? +
Frekuensi problematik adalah suara tertentu yang terdengar terlalu keras atau lemah karena pantulan di ruangan. Contoh: bass 50 Hz terasa “mendominasi”.
❓ Bagaimana cara mengatasinya? +
Gunakan panel akustik / treatment suara:
  • Bass trap → menyerap frekuensi rendah di sudut ruangan
  • Panel absorber → meredam frekuensi menengah di dinding
  • Diffuser → memecah pantulan frekuensi tinggi agar ruangan terdengar alami
❓ Apakah semua dinding harus dipasang panel akustik? +
Tidak. Fokus pada titik-titik pantulan kritis saja, seperti sudut ruangan dan area di belakang speaker atau mikrofon.
❓ Apakah saya butuh alat ukur untuk akustik? +
Tidak selalu. Pemula bisa menggunakan pendengaran sendiri dan speaker reference. Alat pengukur frekuensi membantu jika ingin hasil presisi.
❓ Bagaimana memulai jika ruangan saya kecil? +
Tips untuk ruangan kecil:
  • Pasang bass trap di sudut
  • Gunakan panel absorber di sisi dinding
  • Tambahkan diffuser jika ruangan terasa terlalu “mati” atau terlalu “hidup”
❓ Apakah artikel ini bisa diterapkan untuk rumah biasa? +
Bisa. Prinsip yang sama berlaku untuk ruangan kecil di rumah. Fokus pada proporsi ruangan dan penempatan panel akustik / treatment suara agar rekaman terdengar natural.
💡 Tips tambahan +
Mulai sederhana, dengarkan hasil rekaman, lalu tambah panel akustik / treatment suara sesuai kebutuhan. Gunakan daftar isi untuk menemukan topik penting dengan cepat.

SEMOGA BERMANFAAT

Panca (WhatsApp only)

📱 0878 8342 4078

Ikuti kami di:

© 2024 Jasa Peredaman Suara dan Akustik Bandung
Solusi Akustik Terpercaya

Posting Komentar

0 Komentar